Archive for the ‘Kegagalan Vaksinasi IB pada Ayam’ Category

Kegagalan Vaksinasi IB pada Ayam

Monday, February 1st, 2010

Oleh : Tarmudji dan Mulyadi
Kasus IB (Infectious Bronchitis) dapat muncul pada suatu peternakan ayam. Meskipun program vaksinasi IB telah dilakukan secara rutin dan teratur. Namun kadang - kadang hasil vaksinasi tidak mampu menangkal serangan virus IB di lapangan, Kenapa?
Penyakit IB disebabkan oleh virus Corona, termasuk dalam famili Coronaviridae. Akibat infeksi virus ini dapat menimbulkan kematian anak ayam yang berumur kurang dari tiga minggu dengan angka kematian (mortalitas) mencapai 30%. Dan pada ayam petelur, penyakit IB dapat menyebabkan penurunan produksi telur hingga 60% dalam kurun waktu 6-7 minggu. Di samping itu, kualitas telur juga menurun, yang ditandai dengan bentuk telur tidak teratur, karabang telur lembek dan bagian albumin telur berubah menjadi sangat encer.
Gejala yang sering dijumpai pada ayam akibat penyakit ini adalah gangguan pernafasan yang parah, seperti sesak nafas, bersin-bersin dan keluar cairan dari hidung. Pada pemeriksaan bedah bangkai, secara makroskopis (patologi anatomi) ditemukan cairan yang agak encer hingga kental di dalam trachea, saluran hidung dan sinus hidung. Sedang pada kantong udara (air sac) berwarna keruh atau mengandung eksudat berwarna kuning dan juga dijumpai adanya peradangan di sekitar bronchi. Sementara itu, pada ginjalnya terlihat membengkak dan berwarna pucat.
Kasus di lapangan sering terjadi. Tingkat prevalensi pada beberapa peternakan ayam di Jawa Barat mencapai 40-60%. Padahal peternakan tersebut dilaporkan telah melakukan program vaksinasi IB secara rutin dan teratur. Tentu ada sesuatu yang salah dalam hal ini.
Diduga adanya variasi virus IB galur lapangan yang menyerang peternakan ayam ini. Virus IB mempunyai banyak serotype dan varian-varian baru yang secara terus menerus dapat terbentuk. Sedang vaksin yang digunakan umumnya mengandung virus yang berbeda dengan virus IB galur lapangan. Oleh sebab itu, vaksinasi seringkali tidak memberikan proteksi terhadap ayam, sehingga tindakan tersebut tidak efektif atau boleh dikatakan gagal.
Hal ini karena vaksin yang digunakan adalah vaksin impor, sebagian besar mengandung virus IB serotipe Massachusetts (Mass) dan sebagian kecil berisi serotipe Connecticut (Conn), yang kurang memiliki proteksi silang melawan virus IB galur lapangan.
Variasi Serotipe Virus IB
Virus IB yang berasal dari beberapa daerah di Pulau Jawa, ternyata serotipenya bervariasi yaitu serotipe Mass. 41, Conn-46 dan serotipe yang tidak termasuk keduanya atau serotipe virus IB isolat lokal. Pengertian isolat (I) di sini adalah suatu kandungan mikroorganisme (virus) yang telah diperoleh dari biakan murni dari kasus lapangan.
Isolat yang diperoleh dari beberapa kabupaten adalah: 1.9 (asal Kab. Semarang) termasuk dalam serotype Mass-41 , 1.2 (asal Kab. Sukabumi), 1.3 dan 1.5 (asal Kab. Semarang) termasuk dalam serotipe Conn-46. Sedang isolat 1.5 (asal Kab. Cianjur), 1.14, 1.24 dan 1.25 (asal Kab. Magelang), secara serologis berbeda dengan kedua serotype tersebut di atas atau termasuk virus IB isolat lokal.
Penelitian yang ditujukan untuk mempelajari variasi serotipe virus IB di lapangan ini, dilakukan oleh peneliti Balai Penelitian Veteriner (BALlTVET), guna menjawab pertanyaan kenapa sering muncul kasus IB, meskipun ayamnya sudah divaksin. Karena sebagian besar penyakit IB disebabkan oleh virus IB galur lokal. Sedang vaksin yang digunakan untuk pencegahan penyakit adalah vaksin impor asal Amerika yang notabene mengandung virus serotype Mass-41 atau Conn-46 dan bukan berasal dari virus isolat lokal, sehingga tidak ada perlindungan terhadap penyakit tersebut.
Untuk isolasi dan identifikasi virus, sample berupa organ tubuh ayam yana tersangka sakit lB. dikoleksi dari beberapa daerah di Pulau Jawa, Organ (trachea, paru-paru, ginjal dan ovarium), dikoleksi secara aseptis dan disimpan ke dalam media transport yaitu, 50% glycerine yang mengandung 1.000 IU penicillin dan 1.000 ug streptomisin, selanjutnya dibawa ke laboratorium BALlTVET untuk proses lebih lanjut.
Isolasi virus IB dilakukan pada telur ayam berembrio umur sembilan hari dan diidentifikasikan dengan serum standard anti virus IB dalam uji presipitasi agar (Agar Gel Precipitation test / AGP). Variasi serotype dari isolat-isolat tersebut dipelajari secara uji Serum Netralisasi (SN) silang pada telur berembrio umur sembilan hari. Data dari hasil pemeriksaan liter reaksi netralisasi terhadap serum homolog ini digunakan sebagai dasar penentuan serotype.
Dalam studi ini diperoleh 12 isolat virus IB yang diidentifikasi berdasarkan kemampuannya menimbulkan lesi pada embrio ayam dan positip terhadap uji AGP. lesi embrio yang diakibatkan oleh isolat IB dari inokulum (organ sampel lapangan) berupa kekerdilan, perdarahan dan pertumbuhan dan pertumbuhan bulu yang gagal.
Dari hasil pengamatan inokulum yang menyebabkan lesi embrio seperti itu, terjadi pada pase pertama dan kedua. Hal ini disebabkan oleh virus dari vaksin, karena virus tersebut sudah beradaptasi pada telur embrio. Dan 12 isolat yang positip virus IB lapang itu, berasal dari Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Semarang, Magelang, Blitar den Kediri yang secara uji Hemaglution (HA) diketahui kandungan titer virus IB nya, yaitu log 24 hingga log27.
Selanjutnya delapan dari 12 isolat virus IB dibuat antiserumnya di dalam ayam specific pathogen free (SPF) umur 6 minggu. Titer yang dihasilkan cukup tinggi, yaitu: log 26 -log 27 Kemudian dari delapan isolat dan anti serumnya tersebut diuji serotipenya secara Serum Netralisasi (SN) silang pada telur ayam berembrio umur sembilan hari (Non SPF) dan masih cukup sensitif.
Delapan isolat virus IB lapang yang memperlihatkan adanya reaksi yang kuat dengan virus IB referensi (Mass-41 den Conn-46) adalah isolat 1.7,1.3,1,2 mempunyai reaksi cukup kuat dengan Conn-46 (titer SN 4,5-5,6) den isolat 1.9 hanya dengan Mass-41
(titer SN 5,4). Sementara itu, isolat 1.25,1.24,1.14 dan 1.5 memperlihatkan reaksi yang lemah dengan virus referensi Mass 41 maupun Conn-46, dengan titer SN 2,0 - 2,8, sehingga virus-virus tersebut dinyatakan sebagai virus IB serotype yang berbeda dengan virus IB referensi atau disebut virus IB isolat lokal.
Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa, terdapat variasi serotipe virus IB penyebab penyakit IB di lapangan dan kebanyakan adalah serotipe virus IB isolat lokal. Oleh sebab itu, untuk mengatasi kegagalan vaksinasi, diperlukan vaksin IB dengan menggunakan biang vaksin dari virus IB serotipe lokal, yang sesuai dengan kondisi lapangan.
T a r m u d j i d a n M u l y a d i
Penulis dari Balivet Bogor
Dimuat pada Tabloid Sinar Tani, 9 Agustus 2006