Archive for the ‘ND (NEWCASTLE DISEASE)’ Category

ND (NEWCASTLE DISEASE)

Tuesday, June 14th, 2011

Newcastle Disease termasuk ke dalam Famili Paramyxoviridae. Dari penyakit yang di sebabkan oleh Famili Paramyxoviridae, Newcastle Disease merupakan salah satu penyakit yang membawa kerugian yang sangat besar. Newcale Disease menyerang unggas piaraan dan liar yang merupakan penyakit umum yang serius dengan gejala system saraf pusat.

Replikasi Virus

Berbagai tipe sel yang berbeda digunakan untuk menumbuhkan paramyxovirus yang berbeda. Biakan sel yang diperoleh dari spesies yang sama biasanya digunakan untuk morbilivirus dan pneumovirus; akan tetapi, virus ini tidak gampang ditumbuhkan, dan diadaptasi melalui penyepihan biasanya diperlukan. Replikasi virus dalma biakan biasanya menyebabkan kematian sel, tetapi biakan pembawa denagn mudah dapat ditimbulkan pada banyak system virus sel-inang.

Pembentukan sinsitium pada biakan sel dan in vitro merupakan gambaran menciri dari dari patologi sel, sebagaimana dengan pembentukan inklusi asidofilk pada sitoplasma. Walaupun replikasinya sepenuhnya dalam sitoplasma, morbilivirus juga menghasilkan inklusi intranukleus asidofilik. Penyerapan hema dengan mudah dapat diamati dengan parainfluenzavirus dan beberapa morbilivirus, tetapi tidak dengan pneumovirus.

Genom ssRNA polariras minus dari paramyxovirus ditranskripsi oleh polymerase RNA tergantung RNA terkait – virion ( Transkriptase) menjadi enam atau sepuluh mRNA polaritas plus tidak diolah melalui sintesis tersela mengikuti waktu dari pendorong ( promoter) tunggal. RNA polaritas plus yang utuh juga disintesis dan bertindak sebagai cetakan untuk replikasi dari RNA genom polaritas minus. Pengendalian dari proses ini terutama pada tingkat transkripsi.

Pendewasaan virion meliputi:

1. Penggabungan glikoprotein virus ke dalam membrane plasma sel inang

2. Penyatuan protein matriks (M) dan protein tidak terglikosilasi lainnya dengan membrane sel inang yang berubah

3. Peletakan nukleokapsid (RNA ditambah NP ditambah L ditambah P) di bawah protein matriks

4. Pembentukan dan pelepasan lewat penguncupan virion dewasa dari tempatnya pada membrane plasma yang termodifikasi.

Sejarah Virus Newcastle Disease

Dikenal ada Sembilan serotype paramyxovirus unggas, tetapi hanya paramyxovirus unggas 1, virus penyakiy Newcastle, berkaitan dengan penyakit yang diketahui dengan jelas. Newcastle merupakan infeksi yang sangat menular pada unggas. Penyakit ini pertama kali diamati di Jawa pada 1926, pada musim gugur tahun itu virus menyebar ke Inggris, dan pertama kali diamati di Newcastle, oleh karena itu penyakit ini dinamakan demikian. Kemudian diamati di banyak bagian dunia, penyakit Newcastle menyebabkan epidemic yang dasyat pada unggas di banyak Negara. Penaykit ini merupakan ancaman serius bagi peternakan ayam dan kalkun di Negara yang bebas dari galur virus yang virulen, dan bilamana galur virulennya endemis, penyakit Newcastle merupakan penyebab kerugian ekonomi yang utama. Penyakit akut yang disebabkan oleh virus penyakit Newcastle juga ditemukan pada merpati, terutama di Eropa.

Wabah penyakit Newcastle beragam dalam hal keganasan klinis dan kemampuan menyebarnya. Pada sejumlah wabah, khususnya pada ayam dewasa, gejal klinis mungkin minimum. Virus yang menyebabkan bentuk penyakit ini disebut “lentogenik”. Pada wabah lain, penyakit ini dapat mempunyai angka mortalitas sampai 25%, seringkali lebih tinggi pada unggas musa.; virus yang semikian itu disebut “Mesogenik”. Pada wabah yang lainnya lagi, angka kematian yang lain lagi, terdapat angka kematian yang sangat tinggi, kadang-kadang mencapi 100%, yang disebabkan oleh virus yang velogenik. Kemampuan menyibak protein F merupakan faktor utama yang mempengaruhi virulensi.

Penyakit klinik akut berkaitan dengan gangguan pernapasan, gangguan peredaran darah, dan mencret yang hebat. Tanda gangguan system saraf pusat paling menonjol pada kasus kronis. Terjadi gangguan ekonomi akibat dari tingginya angka kematian, dan juga dari merosotnya bobot badan dan turunnya produksi unggas yang bertahan hidup dari setiap bentuk penyakit itu. Di sebagian besar Negara dengan industry perunggasan yang telah maju, bentuk lentogenik paling umum dan bentuk velogenok dianggap eksotik. Walaupan penyakit Newcastle berkurang arti pentingnya pada tahun 1980 karena berhasilnya pengendalian yang ketat, penyakit itu masih tetap merupakan ancaman di Negara industry dan merupakan penyebab kerugian yang bermakna di Negara berkembang.

Sifat Virus Newcastle Disease

Terdapat hanya satu serotype, tetapi sedikit keragaman antigenic ditemukan dengan menggunakan antibody monoklon. Galur virus tersendiri sangat beragam virulensinya. Di smping rataan waktu kematian dari telur unggas berembrio, indeks patogenesitas intraserebrum pada anak ayam umur 1 hari dan pembentukan plak pada sel embrio unggas dalam keadaan ada atau tidak ada tripsin, yang berkaitan dengan apakah penyibakan pascatranlasi dari precursor polipeptida F terjadi atau tidak terjadi pada system inang, dapat digunakan sebagai penanda dari virulensi.

Dibandingkan dengan kebanyakan paramyxovirus, virus penyakit Newcastle relative tahan panas, sifat yang sangat penting dalam kaitan dengan epidemiologi dan pengendaliannya. Virus ini tetap menular pada sumsum tulang dan otot dari ayam yang disembelih paling tidak selama 6 bulan pada temperature -20 derajat C dan sampai 4 bulan pada temperature almari pendingin. Virus yang menular dapat bertahan hidup sampai berbulan-bulan pada temperature kamar pada telur dari ayam yang terinfeksi dan sampai lebih dari 1 tahun pada temperature 4 derajat C. Daya tahan hidup yang demikian itu dapat diamati untuk virus pada bulu, dan virus dapat tetap menular untuk jangka waktu yang lama pada kandang yang terinfeksi. Senyawa seperempat bagian ammonium, lisol 1-2%kresol 0,1% dan formalin 2% digunakan dalam disinfeksi.

Gejala Klinis

Masa inkubasi pada infeksi alamiah adalah 4-6 hari. Keragaman dalam virulensi menentukan kelangsungan penyakitnya. Penyakit perakut yang berkaitan dengan galur virus velogenik biasanya mematikan. Penyakit akut dan subakut yang berkaitan dengan galur virus mesogenik dan lentogenik paling umum ditemukan di Negara maju dengan industry peruggasan yang modern. Penyakit dimulai dengan anoreksia, meningkatnya temperature tubuh sampai 43 derajat C (Normal: 40-41 derajat C), kelesuan, dan kehausan disertai bulu kusam, jengger berdarah, mata tertutup dan larings serta farings yang kering. Unggas yang sakit akan bersin-bersin dan menderita gangguan pernapasan serta mencret berair. Penurunan produksi telur dapat berlangsung selama 8 minggu. Telur yang dikeluarkan pada fase ini kecil dan kulitnya lunak, dan albumennya berair.

Unggas yang sembuh memperlihatkan tanda kerusakan system saraf pusat, dicirikan oleh paresis kaki, ataksia, tortikolis, dan pergerakan berputar-putar, atau oleh myokloni dan tremor. Pada kalkun, gejala klinisnya mirip dengan pada ayam, sedangkan pada burung dengan ekor panjang (“Pheasant”), itik, and angsa, gangguan system saraf pusat yang terutama dapat diamati. Pada merpati, terjadi penyakit ganas yang menyebar dengan cepat, ditandai oleh anoreksia, mencret, poliuria, konjungtivitis, busung, gangguan system saraf pusat yang meliputi paresis kaki dan sayap.

Patogenisis dan Imunitas

Pada mulanya virus bereplikasi pada epitel mukosa dari saluran pernapasan bagian atas dan saluran pencernaaan; segera setelah terinfeksi, virus menyebar lewat aliran darah ke ginjal dan sumsum tulang, yang menyebabkan viremia sekunder. Ini mengakibatkan infeksi pada organ sasaran sekunder: paru-paru, usus, dan system saraf pusat. Kesulitan bernapas dan sesak napas timbul akibat penyumbatan pada paru-paru dan kerusakan pada pusat pernapasan di otak.

Perubahan pascamati meliputi perdarahan ekimotik pada larings, trakea, esophagus, dan di sepanjang usus. Lesi histologik yang paling menonjol adalah nekrosis terpusat pada mukosa usus dan jaringan limfe dan perubahan hyperemia di sebagian besar organ, termasuk otak.

Produksi antibody berlangsung dengan cepat. Antibody pebghambat hemaglutinasi dapat diamati dalam waktu 4-6 hari setelah infeksi dan menetap selama paling tidak 2 tahun. Titer antibody penghambat hemaglutinasi merupakan ukuran dari kekebalan. Antibody asal-induk dapat melindungi anak ayam samapi 3-4 minggu setelah menetas. Antibadi IgG yang terbatas pada aliran darah tidak mampu mencegah infeksi pernapsan tetapi dapat mencegah viremia; antibody IgA yang dihasilkan secara local berperan penting dalam melindungi saluran pernapasan dan saluran pencernaan.

Diagnosis Laboratorium

Karena gejalanya tidak spesifik, diagnosis harus dipastikan dengan isolasi virus dan serologi. Virus yang dapat diisolasi dari limpa, otak, atau paru-paru melalui inokulasi alantois dari telur berembrio umur 10 hari, virus dibedakan dari virus lainnya dengan uji penghambatan jerapan darah dan penghambatan hemaglutinasi. Penentuan virulensi sangat diperlukan untuk isolate lapangan. Sebagai tambahan atas indeks kerusakan saraf dan rataan waktu kematian dari embrio ayam, juga dipakai pembentukan plak dalam keadaan ada atau tidak adanya tripsin pada sel ayam. Uji penghambatan-hemaglutinasi digunakan dalam diagnosis dan pemantauan penyakit Newcastle kronis di Negara tempat bentuk penyakit ini merupakan endemis.

Epidemiologi

Spectrum inang dari virus penyakit Newcastle meliputi unggas gallina (ayam piaraan, kalkun, burung Afrika dan merak) dan pheasant, puyuh, partridge dan merpati. Angsa dan itik jarang terjangkiti penyakit ini. Unggas liar merupakan sumber virus yang belum diketahui tetapi berpotensi penting. Virus dapat diisolasi dari berbagai spesies. Kadang-kadang terjadi infeksi pada manusia, sebagai penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan ditandai oleh konjungtivitis dan kadang laryngitis, faringitis dan trakeitis.

Pada unggas yang sembuh, virus dikeluarkan pada semua hasil sekresi dan ekskresi selama paling tidak 4 minggu. Perdagangan spesies unggas yang produknya terinfeksi berperan penting dalam penyebaran penyakit Newcastle dari daerah terinfeksi ke daerah bebas infeksi, dan terjadi pemasukan virus ke berbagai Negara melalui ayam beku. Virus juga dapat disebarkan oleh daging ayam mentah yang dibuang, bahan makanan, alas kandang, kotoran kandang, dan wadah pengangkut.

Sebagai perbandingan, peran Epidemiologi dari vector hidup seperti unggas liar atau barangkali tungau adalah tidak begitu penting, walaupun burung liar dapat membawa virus ke suatu Negara yang sebelumnya bebas-infeksi. Penularan terjadi melalui kontak langsung antara sesame unggas melalui jalur udara lewat jalur pernapasan dan partikel debu dan melalui makanan dan minuman yang tercemar. Penularan mekanis antara sesame kawanan unggas dimungkinkan karena relative stabilnya virus dan luasnya kisaran inang. Pada galur lentogenik, penularan transovarium penting, dan ayam terinfeksi-virus dapat diperoleh dari telur yang mengandung virus.

Sumber :Fenner, Frank J, dkk. Virologi Veteriner Edisi Kedua. Academic Press,INC