Archive for the ‘RABIES’ Category

RABIES

Tuesday, June 14th, 2011

http://muslimgeneration.co.nr/

Penyakit Rabies adalah penyakit menular dan bersifat zoonosis, dapat menulari manusia melalui gigitan hewan perantara yang terinfeksi rabies (HPR). Hewan penderita rabies menyerang apa saja yang ada di dekatnya, termasuk manusia yang dianggap mengganggu. Rabies ini menyerang susunan syaraf pusat yang ditandai dengan gejala syaraf, photopobia, agresif, hydrophobia dan biasanya diakhiri kematian. Semua hewan berdarah panas termasuk manusia sangat peka terhadap virus ini.
Etiologi
Penyebab rabies adalah virus yaitu genus Rhabdovirus.

Cara Penularan

Rabies menyebar melalui kontak langsung terutama gigitan, air liur yang mengandung virus masuk melalui luka gigitan. Selanjutnya virus tersebut masuk ke dalam tubuh menuju otak, dan kemudian dari otak ke kelenjar ludah melalui syaraf sentrifugal serta ke pankreas.

Gejala Klinis

Gejala penyakit rabies dapat dikelompokkan menjadi 3 stadium penyakit:
a. Stadium I (taraf prodromal atau melankolik)

Pada stadium ini anjing terlihat berubah sifat dari biasanya. Anjing yang biasanya lincah tiba-tiba menjadi pendiam, pada yang tenang menjadi gelisah, menjadi penakut, bersifat dingin tetapi agresif. Kadang-kadang terlihat lemas, malas, nafsu makan berkurang, temperatur tubuh agak naik, senang bersembunyi ditempat gelap dan teduh. Tidak menurut perintah atau panggilan pemiliknya. Terlihat geram (gigi mengkerut-kerut seperti mau menggigit sesuatu, kadang lari kian kemari bila terkejut berusaha menggigit.

b. Stadium II (taraf eksitasi)

Pada stadium ini anjing menjadi lebih agresif, dan gejala klinis dapat berubah dalam setengah hari sampai tiga hari, gejala iritasi berubah menjadi kegeraman. Takut sinar dan air, senang bersembunyi di bawah kolong, senang memakan benda-benda asing (misalnya: besi, kayu, batu, jerami, dll). Bila dirantai akan berusaha berontak menggigit rantai agar bisa lepas, menggonggong dan suaranya berubah lebih parau, kadang-kadang suaranya seperti lolongan serigala, karena terjadi kelumpuhan ototnya, kesulitan menelan.

Bila anjing itu lepas dia akan melarikan diri dan berjalan terus sepanjang hari dan bila diganggu akan menyerang apa saja, berakhir dengan kelelahan dan sempoyongan. Kejang-kejang, telinga lebih kaku, ekor menjadi lebih kaku dan menjulur ke bawah selangkang.

c. Stadium III (taraf paralisis)

Stadium ini ditandai dengan kelumpuhan yang berlanjut pada otot bagian kepala sehingga terlihat mulut saling menutup, lidah terjulur terus sehingga air liurnya selalu menetes, menggantung dan berbusa, mata menjadi agak juling atau melotot, kelumpuhan melanjut pada otot-otot tubuh sehingga terlihat sempoyongan, kejang-kejang, koma dan antara 2-4 hari kemudian mati karena kelumpuhan pada otot pernafasannya.

Bila anjing dicurigai menderita rabies, maka anjing demikian jangan dipegang. Dalam banyak hal gejala klinis tidak lengkap, dalam 20% kejadian stadium eksitasi atau tidak terlihat/sangat pendek dan stadium paralisis mulai terlihat tanpa gejala-gejala yang mendahuluinya. Di negara dimana rabies sudah lama dikenal maka tiap-tiap gigitan anjing harus dicurigai dan orang yang digigit harus dirawat menurut petunjuk WHO.

Pencegahan dan Pemberantasan

Pencegahan
- Melakukan program vaksinasi rabies secara teratur setahun sekali ke Dinas Peternakan atau dokter hewan terdekat.
- Pemeliharaan anjing sebaik mungkin, pengamatan sifat kebiasaan sehari-hari, bila terlihat perubahan-perubahan secara mendadak dalam sifat-sifatnya segera diperiksakan ke dokter hewan praktek terdekat.
- Sebaiknya anjing tidak selalu dibiarkan berkeliaran di luar rumah tanpa dapat dikendalikan.
- Anjing yang dicurigai atau agak berubah perangainya sebaiknya diisolir dan jangan dicampur dengan anjing lain.
- Karena ganas dan berbahayanya rabies, maka pencegahan dan pemberantasannya harus dilakukan secara intensif dan sedini mungkin.

Pemberantasan
Pemberantasan rabies di Indonesia hendaknya berdasarkan:

1. Menyadarkan masyarakat tentang arti rabies dan mengikutsertakan umum dalam kampanye pemberantasan rabies.

2. Eliminasi anjing liar sebagai vektor utama yang menyebarkan virus rabies.

3. Vaksinasi.

Perawatan manusia yang digigit oleh anjing atau yang dicurigai menderita rabies:
Kemungkinan tertular rabies sesudah digigit anjing tergantung pada beberapa faktor:
1. Adanya virus dalam air liur. Hal ini ditemukan sebanyak 30-40% pada anjing gila.
2. Sifat luka. Luka datar dan mengeluarkan banyak darah lebih baik daripada luka gigitan dalam. Luka disebabkan oleh cengkeraman kucing dianggap sangat berb ahaya karena sifat kerusakan jaringan dan oleh karena kuku kucing biasanya ditulari virus dengan saliva. Umumnya manusia sering ditulari oleh anjing dan jarang oleh kera atau kucing.

3. Tempat luka. Luka-luka pada muka lebih berbahaya daripada luka tangan dan kaki. Yang penting dalam hal ini ialah jarak antara luka dan sistem saraf pusat disamping inervasi setempat. Bila orang digigit anjing atau yang dicurigai gila maka yang penting pada terapi adalah perawatan luka.

Langkah-langkah pertama yang perlu dilakukan apabila orang digigit anjing:
1. Luka akibat gigitan dibiarkan mengeluarkan darah yang banyak, kemudian luka dibersihkan dengan air sabun atau detergen, lalu bilas dengan air bersih dan selanjutnya luka didesinfeksi dengan basa amonium kuartener 0,1%, bisa juga dengan alkohol 70% atau tintur yodium. Virus dalam luka dapat dinetralisir dengan suntikan infiltrasi jaringan di sekitar luka dengan serum imun atau menghamburkan bedak desinfektan dalam luka.

2. Segera mungkin berobat ke dokter atau Puskesmas terdekat untuk mendapatkan pengobatan selanjutnya.
3. Laporkan segera pada petugas Dinas Peternakan atau yang berwenang melaksanakan fungsi kesehatan hewan setempat tentang anjing yang menggigit (alamat dan pemiliknya).