Archive for June, 2011

DISTEMPER ANJING

Tuesday, June 14th, 2011

http://muslimgeneration.co.nr/

Distemper anjing adalah penyakit anjing yang sangat menular pada anjing dan karnivora lainnya. Distemper anjing merupakan penyakit viral yang paling umum pada anjing dan sedikit anjing yang benar-benar terisolasi tidak terpapar atau terinnfeksi oleh virus ini.

Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh Morbilivirus. Virus distemper digolongkan ke dalam keluarga besar Paramyxoviridae dan berkerabat secara antigenik dan biofisik dengan virus campak (measles) manusia dan virus sampar sapi (rinderpest).

Virus ini tersusun atas RNA, bentuk simmetri helical, beramplop, virus ini agak labil dan aktifitasnya dapat dirusak oleh panas, kekeringan, deterjen, pelarut lemak dan desinfektan.

Patogenesa
Virus distemper anjing terutama ditularkan secara aerosol dan droplet infektif yang berasal dari sekresi tubuh hewan penderita sehingga infeksi menyebar sangat cepat diantara anak-anak anjing yang peka. Gambaran umum yang ditimbulkan oleh virus ini adalah suatu keadaan tertekannya kekebalan (imunosupresif).

Tertekannya kekebalan karena terjadinya perbanyakan virus di dalam jaringan limfoid selama masa inkubasi. Gejala-gejala yang khas distemper akut biasanya muncul bila anjing penderita distemper berhasil menekan kekebalan anjing terinfeksi tersebut.

Infeksi ikutan oleh bakteri sebagai akibat telah tertekannya kekebalan anjing kerap mendorong munculnya sejumlah gejala klinis yang menyertai distemper. Disamping itu infeksi bakteri juga akan memperbesar tingkat mortalitas. Selain terjadinya infeksi ikutan oleh bakteri, kejadian toksoplasmosis, koksidiosis, enteritis viral dan infeksi mikoplasma yang bersamaan dengan infeksi distemper akan memperparah akibat penekanan system kekebalan pada anjing penderita.

Gejala Klinis

Masa inkubasi sampai munculnya gejala klinis distemper akut biasanya 14-18 hari. Setelah anjing terpapar dan terinfeksi, akan terjadi demam singkat dan leucopenia yang berlangsung pada hari ke-4 dan ke-7 tanpa munculnya gejala klinis. Suhu tubuh akan kembali normal pada hari ke-7 dan ke-14, setelah itu suhu tubuh akan naik untuk kedua kalinya disertai konjungtivitis, rhinitis, batuk, diare, anoreksia, dehidrasi dan penurunan berat badan.

Leleran okulonasal yang mukopurulen dan pneumonia sering terjadi sebagai akibat infeksi ikutan oleh bakteri. Kuman Bordetella bronchiseptica umum ditemukan pada anjing distemper. Tutul-tutul kemerahan pada kuliit yang kemudian berkembang menjadi pustule bisa ditemukan, khususnya pada abdomen.

Gejala-gejala terjadinya ensefalitis bisa muncul dengan beragam bentuk. Mioklonus atau mengerejatnya otot tanpa dikendali anjing tampak mendadak seperti mengunyah permen karet, ataksia, inkoordinasi, berpusing-pusing, hyperesthesia, kekakuan pada otot, selalu merasa ketakutan dan kebutaan menjadi gejala-gejala syaraf yang paling umum dijumpai pada penderita distemper.

Selain distemper menyebabkan ensefalitis akut dan subakut, distemper juga menimbulkan bentuk ensefalitis kronis dengan gejala meliputi inkoordinasi, kelemahan kaki belakang, matanya tidak tanggap terhadap suatu ancaman benda baik unilateral maupun bilateral, kedudukan kepala miring, nistagmus, paralisis wajah, tremor kepala tanpa disertai mioklonus. Bentuk lain ensefalitis kronis adalah “old dog encephalitis” dengan gejala klinis gangguan penglihatan dan kurang tanggapnya mata terhadap ancaman suatu benda secara bilateral.

Diagnosa
Diagnosa distemper akut dan subakut biasanya berdasarkan riwayat penyakit dan gejala klinis. Pemeriksaan oftalmoskopik bisa melacak terjadinya chorioretinitis dengan daerah degenerasi berwarna abu-abu sampai merah muda pada tapetum atau fundus nontapetum dalam suatu kejadian penyakit yang akut.
Suatu diagnosa pasti yang dibuat dengan melacak keberadaan virus distemper pada sel-sel epitel dengan pemeriksaan zat kebal berpendar (fluorescent antibody) atau dengan mengisolasi virus.

Pencegahan dan Pengobatan

Obat-obat antivirus atau bahan-bahan kemoterapetika yang bisa dimanfaatkan untuk pengobatan yang spesifik untuk anjing distemper hingga kini belum tersedia. Antibiotic spectrum luas bisa diberikan untuk mengendalikan infeksi bakteri ikutan, disamping pemberian cairan elektrolit, vitamin B dan suplementasi nutrisi untuk suatu terapi suportif.

Selain itu pemberian vitamin C dan dietil ether bermanfaat dalam pengobatan distemper. Pemberian Dexamethasone dilaporkan memberikan sejumlah manfaat dalam mengobati anjing pasca distemper yang disertai gejala-gejala syaraf pemberian vaksin distemper MLV (modified live virus) secara intravena memberikan hasil yang baik.

Untuk pencegahan dilakukan vaksinasi dengan vaksin MLV. Dosis tunggal vaksin distemper MLV memberikan kekebalan anjing-anjing yang tidak memiliki zat kebal terhadap distemper dan peka terhadap penyakit ini.
Dengan vaksinasi sekitar 50 % anak anjing bisa dikebalkan terhadap distemper saat berumur 6 minggu, sekitar 75 % saat berumur 9 minggu dan lebih dari 95 % di atas usia 13 minggu. Vaksinasi diberikan pada anjing saat berumur 5-7 minggu diikuti pemberian vaksin dengan selang pemberian 3-4 minggu hingga berumur 14 minggu dan vaksin ulangan setiap tahun. Jadwal seperti demikian akan memberikan kekebalan anjing terhadap distemper dan titer kebal akan bertahan lama setelah terjadinya tanggapan terhadap vaksinasi ulangan (booster).

RABIES

Tuesday, June 14th, 2011

http://muslimgeneration.co.nr/

Penyakit Rabies adalah penyakit menular dan bersifat zoonosis, dapat menulari manusia melalui gigitan hewan perantara yang terinfeksi rabies (HPR). Hewan penderita rabies menyerang apa saja yang ada di dekatnya, termasuk manusia yang dianggap mengganggu. Rabies ini menyerang susunan syaraf pusat yang ditandai dengan gejala syaraf, photopobia, agresif, hydrophobia dan biasanya diakhiri kematian. Semua hewan berdarah panas termasuk manusia sangat peka terhadap virus ini.
Etiologi
Penyebab rabies adalah virus yaitu genus Rhabdovirus.

Cara Penularan

Rabies menyebar melalui kontak langsung terutama gigitan, air liur yang mengandung virus masuk melalui luka gigitan. Selanjutnya virus tersebut masuk ke dalam tubuh menuju otak, dan kemudian dari otak ke kelenjar ludah melalui syaraf sentrifugal serta ke pankreas.

Gejala Klinis

Gejala penyakit rabies dapat dikelompokkan menjadi 3 stadium penyakit:
a. Stadium I (taraf prodromal atau melankolik)

Pada stadium ini anjing terlihat berubah sifat dari biasanya. Anjing yang biasanya lincah tiba-tiba menjadi pendiam, pada yang tenang menjadi gelisah, menjadi penakut, bersifat dingin tetapi agresif. Kadang-kadang terlihat lemas, malas, nafsu makan berkurang, temperatur tubuh agak naik, senang bersembunyi ditempat gelap dan teduh. Tidak menurut perintah atau panggilan pemiliknya. Terlihat geram (gigi mengkerut-kerut seperti mau menggigit sesuatu, kadang lari kian kemari bila terkejut berusaha menggigit.

b. Stadium II (taraf eksitasi)

Pada stadium ini anjing menjadi lebih agresif, dan gejala klinis dapat berubah dalam setengah hari sampai tiga hari, gejala iritasi berubah menjadi kegeraman. Takut sinar dan air, senang bersembunyi di bawah kolong, senang memakan benda-benda asing (misalnya: besi, kayu, batu, jerami, dll). Bila dirantai akan berusaha berontak menggigit rantai agar bisa lepas, menggonggong dan suaranya berubah lebih parau, kadang-kadang suaranya seperti lolongan serigala, karena terjadi kelumpuhan ototnya, kesulitan menelan.

Bila anjing itu lepas dia akan melarikan diri dan berjalan terus sepanjang hari dan bila diganggu akan menyerang apa saja, berakhir dengan kelelahan dan sempoyongan. Kejang-kejang, telinga lebih kaku, ekor menjadi lebih kaku dan menjulur ke bawah selangkang.

c. Stadium III (taraf paralisis)

Stadium ini ditandai dengan kelumpuhan yang berlanjut pada otot bagian kepala sehingga terlihat mulut saling menutup, lidah terjulur terus sehingga air liurnya selalu menetes, menggantung dan berbusa, mata menjadi agak juling atau melotot, kelumpuhan melanjut pada otot-otot tubuh sehingga terlihat sempoyongan, kejang-kejang, koma dan antara 2-4 hari kemudian mati karena kelumpuhan pada otot pernafasannya.

Bila anjing dicurigai menderita rabies, maka anjing demikian jangan dipegang. Dalam banyak hal gejala klinis tidak lengkap, dalam 20% kejadian stadium eksitasi atau tidak terlihat/sangat pendek dan stadium paralisis mulai terlihat tanpa gejala-gejala yang mendahuluinya. Di negara dimana rabies sudah lama dikenal maka tiap-tiap gigitan anjing harus dicurigai dan orang yang digigit harus dirawat menurut petunjuk WHO.

Pencegahan dan Pemberantasan

Pencegahan
- Melakukan program vaksinasi rabies secara teratur setahun sekali ke Dinas Peternakan atau dokter hewan terdekat.
- Pemeliharaan anjing sebaik mungkin, pengamatan sifat kebiasaan sehari-hari, bila terlihat perubahan-perubahan secara mendadak dalam sifat-sifatnya segera diperiksakan ke dokter hewan praktek terdekat.
- Sebaiknya anjing tidak selalu dibiarkan berkeliaran di luar rumah tanpa dapat dikendalikan.
- Anjing yang dicurigai atau agak berubah perangainya sebaiknya diisolir dan jangan dicampur dengan anjing lain.
- Karena ganas dan berbahayanya rabies, maka pencegahan dan pemberantasannya harus dilakukan secara intensif dan sedini mungkin.

Pemberantasan
Pemberantasan rabies di Indonesia hendaknya berdasarkan:

1. Menyadarkan masyarakat tentang arti rabies dan mengikutsertakan umum dalam kampanye pemberantasan rabies.

2. Eliminasi anjing liar sebagai vektor utama yang menyebarkan virus rabies.

3. Vaksinasi.

Perawatan manusia yang digigit oleh anjing atau yang dicurigai menderita rabies:
Kemungkinan tertular rabies sesudah digigit anjing tergantung pada beberapa faktor:
1. Adanya virus dalam air liur. Hal ini ditemukan sebanyak 30-40% pada anjing gila.
2. Sifat luka. Luka datar dan mengeluarkan banyak darah lebih baik daripada luka gigitan dalam. Luka disebabkan oleh cengkeraman kucing dianggap sangat berb ahaya karena sifat kerusakan jaringan dan oleh karena kuku kucing biasanya ditulari virus dengan saliva. Umumnya manusia sering ditulari oleh anjing dan jarang oleh kera atau kucing.

3. Tempat luka. Luka-luka pada muka lebih berbahaya daripada luka tangan dan kaki. Yang penting dalam hal ini ialah jarak antara luka dan sistem saraf pusat disamping inervasi setempat. Bila orang digigit anjing atau yang dicurigai gila maka yang penting pada terapi adalah perawatan luka.

Langkah-langkah pertama yang perlu dilakukan apabila orang digigit anjing:
1. Luka akibat gigitan dibiarkan mengeluarkan darah yang banyak, kemudian luka dibersihkan dengan air sabun atau detergen, lalu bilas dengan air bersih dan selanjutnya luka didesinfeksi dengan basa amonium kuartener 0,1%, bisa juga dengan alkohol 70% atau tintur yodium. Virus dalam luka dapat dinetralisir dengan suntikan infiltrasi jaringan di sekitar luka dengan serum imun atau menghamburkan bedak desinfektan dalam luka.

2. Segera mungkin berobat ke dokter atau Puskesmas terdekat untuk mendapatkan pengobatan selanjutnya.
3. Laporkan segera pada petugas Dinas Peternakan atau yang berwenang melaksanakan fungsi kesehatan hewan setempat tentang anjing yang menggigit (alamat dan pemiliknya).

PAPILOMATOSIS (Penyakit Kulit, Warts, Infectious Verrucae)

Tuesday, June 14th, 2011

http://muslimgeneration.co.nr/

Papilomatosis adalah penyakit viral yang menular pada hewan muda dan disertai pertumbuhan liar pada kulit atau selaput lendir. Penyakit ini banyak ditemukan pada banyak jenis hewan.

Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh virus yang tergolong dalam papilomavirus. Virus tersebut mempunyai sifat resisten.

Gejala Klinis

Penyakit kutil pada anjing hendaknya dianggap lebih serius daripada papilomatosis jenis hewan lain, karena pertumbuhan-pertumbuhan ini terutama berkembang di dalam mulut. Sesungguhnya tumor sendiri bersifat tenang tetapi lokasinya sangat mengganggu. Masa inkubasi 1-2 bulan. Penyakit ini sangat menular dan terutama menyerang anjing muda. Dalam suatu kennel biasanya semua anjing dapat tertular.

Kutil-kutil mulai tumbuh di bagian luar bibir sebagai benjolan-benjolan kecil, pucat dan kasar. Sesudah itu secara cepat terbentuk kutil-kutil pada selaput lendir, bibir, pipi, langit-langit, lidah bahkan pada selaput lendir faring.

Pertumbuhan-pertumbuhan itu menyerupai sebongkah kol kembang. Dalam kasus-kasus yang peka mengunyah dan menelan dipersulit. Biasanya mulut anjing berbau karena sebagian makanan tertimbun diantara tumor-tumor. Dalam kebanyakan hal penyembuhan spontan berlangsung dalam beberapa bulan.

Patogenesis dan Imunologi

Infeksi biasanya terjadi karena infeksi virus dari luar memasuki kulit. Pada tempat masuk itu terjadi fibro-papiloma. Kemudian penyebaran berlangsung melalui aliran darah dan pada lokalisasi di sekitar vena jugularis. Papiloma umumnya terdiri dari jaringan mesenkim dan epidermis, pada sel basal dan fibroblas hanya sedikit virus ditemukan.

Bila kutil-kutil telah menghilang secara spontan maka terjadilah imunitas yang mencegah reinfeksi. Kekebalan ini berdasarkan imunitas selular.

Diagnosa
Diagnosa didasarkan pada pemeriksaan klinis dan histologis. Kutil-kutil pada puting susu dapat disamakan dengan lesi cacar. Bila perlu digunakan tes presipitasi dan mikroskop elektron.


Pemberantasan
Papilomatosis dapat diberantas dengan melakukan vaksinasi, dan yang sering digunakan adalah suspensi formalin yang dibuat dari kutil-kutil. Vaksinasi pencegahan menimbulkan kekebalan selama 6 bulan. Hasil yang dicapai oleh vaksinasi preventif dan kuratif sulit dievaluasi karena kemungkinan penyembuhan secara spontan.


ND (NEWCASTLE DISEASE)

Tuesday, June 14th, 2011

Newcastle Disease termasuk ke dalam Famili Paramyxoviridae. Dari penyakit yang di sebabkan oleh Famili Paramyxoviridae, Newcastle Disease merupakan salah satu penyakit yang membawa kerugian yang sangat besar. Newcale Disease menyerang unggas piaraan dan liar yang merupakan penyakit umum yang serius dengan gejala system saraf pusat.

Replikasi Virus

Berbagai tipe sel yang berbeda digunakan untuk menumbuhkan paramyxovirus yang berbeda. Biakan sel yang diperoleh dari spesies yang sama biasanya digunakan untuk morbilivirus dan pneumovirus; akan tetapi, virus ini tidak gampang ditumbuhkan, dan diadaptasi melalui penyepihan biasanya diperlukan. Replikasi virus dalma biakan biasanya menyebabkan kematian sel, tetapi biakan pembawa denagn mudah dapat ditimbulkan pada banyak system virus sel-inang.

Pembentukan sinsitium pada biakan sel dan in vitro merupakan gambaran menciri dari dari patologi sel, sebagaimana dengan pembentukan inklusi asidofilk pada sitoplasma. Walaupun replikasinya sepenuhnya dalam sitoplasma, morbilivirus juga menghasilkan inklusi intranukleus asidofilik. Penyerapan hema dengan mudah dapat diamati dengan parainfluenzavirus dan beberapa morbilivirus, tetapi tidak dengan pneumovirus.

Genom ssRNA polariras minus dari paramyxovirus ditranskripsi oleh polymerase RNA tergantung RNA terkait – virion ( Transkriptase) menjadi enam atau sepuluh mRNA polaritas plus tidak diolah melalui sintesis tersela mengikuti waktu dari pendorong ( promoter) tunggal. RNA polaritas plus yang utuh juga disintesis dan bertindak sebagai cetakan untuk replikasi dari RNA genom polaritas minus. Pengendalian dari proses ini terutama pada tingkat transkripsi.

Pendewasaan virion meliputi:

1. Penggabungan glikoprotein virus ke dalam membrane plasma sel inang

2. Penyatuan protein matriks (M) dan protein tidak terglikosilasi lainnya dengan membrane sel inang yang berubah

3. Peletakan nukleokapsid (RNA ditambah NP ditambah L ditambah P) di bawah protein matriks

4. Pembentukan dan pelepasan lewat penguncupan virion dewasa dari tempatnya pada membrane plasma yang termodifikasi.

Sejarah Virus Newcastle Disease

Dikenal ada Sembilan serotype paramyxovirus unggas, tetapi hanya paramyxovirus unggas 1, virus penyakiy Newcastle, berkaitan dengan penyakit yang diketahui dengan jelas. Newcastle merupakan infeksi yang sangat menular pada unggas. Penyakit ini pertama kali diamati di Jawa pada 1926, pada musim gugur tahun itu virus menyebar ke Inggris, dan pertama kali diamati di Newcastle, oleh karena itu penyakit ini dinamakan demikian. Kemudian diamati di banyak bagian dunia, penyakit Newcastle menyebabkan epidemic yang dasyat pada unggas di banyak Negara. Penaykit ini merupakan ancaman serius bagi peternakan ayam dan kalkun di Negara yang bebas dari galur virus yang virulen, dan bilamana galur virulennya endemis, penyakit Newcastle merupakan penyebab kerugian ekonomi yang utama. Penyakit akut yang disebabkan oleh virus penyakit Newcastle juga ditemukan pada merpati, terutama di Eropa.

Wabah penyakit Newcastle beragam dalam hal keganasan klinis dan kemampuan menyebarnya. Pada sejumlah wabah, khususnya pada ayam dewasa, gejal klinis mungkin minimum. Virus yang menyebabkan bentuk penyakit ini disebut “lentogenik”. Pada wabah lain, penyakit ini dapat mempunyai angka mortalitas sampai 25%, seringkali lebih tinggi pada unggas musa.; virus yang semikian itu disebut “Mesogenik”. Pada wabah yang lainnya lagi, angka kematian yang lain lagi, terdapat angka kematian yang sangat tinggi, kadang-kadang mencapi 100%, yang disebabkan oleh virus yang velogenik. Kemampuan menyibak protein F merupakan faktor utama yang mempengaruhi virulensi.

Penyakit klinik akut berkaitan dengan gangguan pernapasan, gangguan peredaran darah, dan mencret yang hebat. Tanda gangguan system saraf pusat paling menonjol pada kasus kronis. Terjadi gangguan ekonomi akibat dari tingginya angka kematian, dan juga dari merosotnya bobot badan dan turunnya produksi unggas yang bertahan hidup dari setiap bentuk penyakit itu. Di sebagian besar Negara dengan industry perunggasan yang telah maju, bentuk lentogenik paling umum dan bentuk velogenok dianggap eksotik. Walaupan penyakit Newcastle berkurang arti pentingnya pada tahun 1980 karena berhasilnya pengendalian yang ketat, penyakit itu masih tetap merupakan ancaman di Negara industry dan merupakan penyebab kerugian yang bermakna di Negara berkembang.

Sifat Virus Newcastle Disease

Terdapat hanya satu serotype, tetapi sedikit keragaman antigenic ditemukan dengan menggunakan antibody monoklon. Galur virus tersendiri sangat beragam virulensinya. Di smping rataan waktu kematian dari telur unggas berembrio, indeks patogenesitas intraserebrum pada anak ayam umur 1 hari dan pembentukan plak pada sel embrio unggas dalam keadaan ada atau tidak ada tripsin, yang berkaitan dengan apakah penyibakan pascatranlasi dari precursor polipeptida F terjadi atau tidak terjadi pada system inang, dapat digunakan sebagai penanda dari virulensi.

Dibandingkan dengan kebanyakan paramyxovirus, virus penyakit Newcastle relative tahan panas, sifat yang sangat penting dalam kaitan dengan epidemiologi dan pengendaliannya. Virus ini tetap menular pada sumsum tulang dan otot dari ayam yang disembelih paling tidak selama 6 bulan pada temperature -20 derajat C dan sampai 4 bulan pada temperature almari pendingin. Virus yang menular dapat bertahan hidup sampai berbulan-bulan pada temperature kamar pada telur dari ayam yang terinfeksi dan sampai lebih dari 1 tahun pada temperature 4 derajat C. Daya tahan hidup yang demikian itu dapat diamati untuk virus pada bulu, dan virus dapat tetap menular untuk jangka waktu yang lama pada kandang yang terinfeksi. Senyawa seperempat bagian ammonium, lisol 1-2%kresol 0,1% dan formalin 2% digunakan dalam disinfeksi.

Gejala Klinis

Masa inkubasi pada infeksi alamiah adalah 4-6 hari. Keragaman dalam virulensi menentukan kelangsungan penyakitnya. Penyakit perakut yang berkaitan dengan galur virus velogenik biasanya mematikan. Penyakit akut dan subakut yang berkaitan dengan galur virus mesogenik dan lentogenik paling umum ditemukan di Negara maju dengan industry peruggasan yang modern. Penyakit dimulai dengan anoreksia, meningkatnya temperature tubuh sampai 43 derajat C (Normal: 40-41 derajat C), kelesuan, dan kehausan disertai bulu kusam, jengger berdarah, mata tertutup dan larings serta farings yang kering. Unggas yang sakit akan bersin-bersin dan menderita gangguan pernapasan serta mencret berair. Penurunan produksi telur dapat berlangsung selama 8 minggu. Telur yang dikeluarkan pada fase ini kecil dan kulitnya lunak, dan albumennya berair.

Unggas yang sembuh memperlihatkan tanda kerusakan system saraf pusat, dicirikan oleh paresis kaki, ataksia, tortikolis, dan pergerakan berputar-putar, atau oleh myokloni dan tremor. Pada kalkun, gejala klinisnya mirip dengan pada ayam, sedangkan pada burung dengan ekor panjang (“Pheasant”), itik, and angsa, gangguan system saraf pusat yang terutama dapat diamati. Pada merpati, terjadi penyakit ganas yang menyebar dengan cepat, ditandai oleh anoreksia, mencret, poliuria, konjungtivitis, busung, gangguan system saraf pusat yang meliputi paresis kaki dan sayap.

Patogenisis dan Imunitas

Pada mulanya virus bereplikasi pada epitel mukosa dari saluran pernapasan bagian atas dan saluran pencernaaan; segera setelah terinfeksi, virus menyebar lewat aliran darah ke ginjal dan sumsum tulang, yang menyebabkan viremia sekunder. Ini mengakibatkan infeksi pada organ sasaran sekunder: paru-paru, usus, dan system saraf pusat. Kesulitan bernapas dan sesak napas timbul akibat penyumbatan pada paru-paru dan kerusakan pada pusat pernapasan di otak.

Perubahan pascamati meliputi perdarahan ekimotik pada larings, trakea, esophagus, dan di sepanjang usus. Lesi histologik yang paling menonjol adalah nekrosis terpusat pada mukosa usus dan jaringan limfe dan perubahan hyperemia di sebagian besar organ, termasuk otak.

Produksi antibody berlangsung dengan cepat. Antibody pebghambat hemaglutinasi dapat diamati dalam waktu 4-6 hari setelah infeksi dan menetap selama paling tidak 2 tahun. Titer antibody penghambat hemaglutinasi merupakan ukuran dari kekebalan. Antibody asal-induk dapat melindungi anak ayam samapi 3-4 minggu setelah menetas. Antibadi IgG yang terbatas pada aliran darah tidak mampu mencegah infeksi pernapsan tetapi dapat mencegah viremia; antibody IgA yang dihasilkan secara local berperan penting dalam melindungi saluran pernapasan dan saluran pencernaan.

Diagnosis Laboratorium

Karena gejalanya tidak spesifik, diagnosis harus dipastikan dengan isolasi virus dan serologi. Virus yang dapat diisolasi dari limpa, otak, atau paru-paru melalui inokulasi alantois dari telur berembrio umur 10 hari, virus dibedakan dari virus lainnya dengan uji penghambatan jerapan darah dan penghambatan hemaglutinasi. Penentuan virulensi sangat diperlukan untuk isolate lapangan. Sebagai tambahan atas indeks kerusakan saraf dan rataan waktu kematian dari embrio ayam, juga dipakai pembentukan plak dalam keadaan ada atau tidak adanya tripsin pada sel ayam. Uji penghambatan-hemaglutinasi digunakan dalam diagnosis dan pemantauan penyakit Newcastle kronis di Negara tempat bentuk penyakit ini merupakan endemis.

Epidemiologi

Spectrum inang dari virus penyakit Newcastle meliputi unggas gallina (ayam piaraan, kalkun, burung Afrika dan merak) dan pheasant, puyuh, partridge dan merpati. Angsa dan itik jarang terjangkiti penyakit ini. Unggas liar merupakan sumber virus yang belum diketahui tetapi berpotensi penting. Virus dapat diisolasi dari berbagai spesies. Kadang-kadang terjadi infeksi pada manusia, sebagai penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan ditandai oleh konjungtivitis dan kadang laryngitis, faringitis dan trakeitis.

Pada unggas yang sembuh, virus dikeluarkan pada semua hasil sekresi dan ekskresi selama paling tidak 4 minggu. Perdagangan spesies unggas yang produknya terinfeksi berperan penting dalam penyebaran penyakit Newcastle dari daerah terinfeksi ke daerah bebas infeksi, dan terjadi pemasukan virus ke berbagai Negara melalui ayam beku. Virus juga dapat disebarkan oleh daging ayam mentah yang dibuang, bahan makanan, alas kandang, kotoran kandang, dan wadah pengangkut.

Sebagai perbandingan, peran Epidemiologi dari vector hidup seperti unggas liar atau barangkali tungau adalah tidak begitu penting, walaupun burung liar dapat membawa virus ke suatu Negara yang sebelumnya bebas-infeksi. Penularan terjadi melalui kontak langsung antara sesame unggas melalui jalur udara lewat jalur pernapasan dan partikel debu dan melalui makanan dan minuman yang tercemar. Penularan mekanis antara sesame kawanan unggas dimungkinkan karena relative stabilnya virus dan luasnya kisaran inang. Pada galur lentogenik, penularan transovarium penting, dan ayam terinfeksi-virus dapat diperoleh dari telur yang mengandung virus.

Sumber :Fenner, Frank J, dkk. Virologi Veteriner Edisi Kedua. Academic Press,INC

KISAH DUA TUKANG SOL

Tuesday, June 14th, 2011

Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.

Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.

Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.

“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.

“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.

“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas.

“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”

“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.

“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.

“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.

“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.

Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.

“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”

Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.

Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,

“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”

Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,

“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”

“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.

“Abang yakin?”

“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.

“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.

“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.

Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.

“Apa kabar mang Udin?”

“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.

Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,

“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”

“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.

“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.

Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,

“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”

“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.

Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.

“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.

Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.

“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.

“Tidak.”

“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”

Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.

“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.

“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”

Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimist bahwa hidup akan lebih baik.

http://muslimgeneration.co.nr/